20 Mei 2024
the explorer grand slam
Seseorang baru bisa dikatakan meraih The Explorer's Grand Slam kalau sudah mendaki tujuh puncak gunung di tujuh benua, dan mencapai titik tengah kutub utara dan selatan bumi.

Views: 6

Sepertinya tak pernah usai niat eksplorasi dalam dunia petualangan di alam bebas. Selalu saja ada hal-hal baru yang kembali dilakukan. Berbagai tema petualangan kembali bermunculan. Seperti, setelah era pendakian tujuh puncak dunia banyak dilakukan. Para petualang kemudian seperti mencari tema petualangan baru. Petualangan 14 puncak 8000-an dunia, dan Grand Slam Petualang dunia menjadi contohnya. Tapi dalam artikel kali ini, tak akan membahas tentang petualangan mendaki 14 puncak 8000-an dunia. Melainkan fokus membahas mengenai Grand Slam Petualang dunia, atau dikenal dengan nama The Explorer’s Grand Slam.

Sebenarnya konsep The Explorer’s Grand Slam adalah pencapaian pada jenis-jenis petualangan alam bebas yang kini dianggap paling sulit dilakukan. Banyak institusi petualangan dunia, seperti American Alpine Club atau Explorers Club menyatakan jenis petualangan paling sulit saat ini merupakan pendakian gunung dan penjelajahan di dua kutub dunia. Oleh karena itu kemudian lahir konsep The Explorer’s Grand Slam. Dimana seseorang baru bisa dikatakan meraih Grand Slam petualangan tersebut kalau sudah mendaki tujuh puncak gunung di tujuh benua, dan mencapai titik tengah kutub utara dan selatan bumi.  

10 Petualang Pertama Grand Slam

Berdasarkan tujuan tersebut, berbondong-bondong petualang mulai turut menyelesaikannya. Tercatat petualang yang pertama kali menyelesaikan The Explorer’s Grand Slam adalah Sir David Hempleman Adam. Dari Namanya sudah ketahuan kalau ia merupakan warga negara Inggris. Sir David menyelesaikan event tersebut pada tahun 1998.

Setelah itu berderet nama-nama, seperti Erling Kagge, Fedor Konyukhov, Heo Young Ho, Park Young Seok, Bernard Voyer, Cecilie Skog (perempuan pertama), Maxime Chaya, Ryan Waters, dan Stuart Smith menjadi 10 orang pertama yang berhasil menyelesaikan tantangan tersebut.

The Explorer’s Grand Slam Sejati

Namun konsep tersebut kemudian banyak dikritisi para petualang lain. Sebab pada bagian mendaki gunung, sebenarnya ada lagi event yang tidak mudah dilakukan, yaitu pendakian 14 puncak gunung berketinggian 8000-an meter. Oleh karena itu muncul kesepakatan baru, bahwa Petualangan Grand Slam sejati adalah mendaki tujuh puncak benua dunia, mendaki 14 puncak gunung 8000-an meter, dan mencapai titik tengah kutub utara dan selatan bumi.

Nah, kalau yang sejati ini baru ada dua orang yang berhasil menyelesaikannya. Pertama, Park Yeoung Seok dari Korea Selatan pada tahun 2005. Kemudian yang kedua Ryan Waters dari Amerika Serikat pada tahun 2014.

Putri Handayani saat menuju puncak gunung Aconcagua di Argentina dalam upaya pencapaian tujuh puncak benua dunia. (dok. putri handayani)

The Explorer’s Grand Slam dari Indonesia

Menyikapi adanya konsensus-konsensus diatas tentang dunia petualangan dunia, maka para petualangan Indonesia juga tak tinggal diam. Meski pada akhir-akhir ini baru ada satu pendaki wanita yang berniat menyelesaikan The Explorer’s Grand Slam tersebut. Nama pendaki wanita yang kini sedang berjuang menyelesaikannya adalah Putri Handayani.

Sejauh ini Putri Handayani tercatat telah berhasil mencapai puncak gunung Kalimanjaro (tertinggi di benua Afrika), Elbrus (tertinggi di benua Eropa), Aconcagua (tertinggi di wilayah Amerika Selatan), Denali (tertinggi di Amerika Utara), dan Carstensz Pyramid (tertinggi di wilayah Oseania dan Australia). Itu artinya ia tinggal mencapai puncak Everest, Vinson Massif, South Pole, dan North Pole agar menjadi orang Indonesia pertama yang meraih predikat The Explorer’s Grand Slam.

Kabar terakhir, Putri berniat menyambangi Vinson Massif terlebih dahulu yang berada di Kutub Selatan. Jadi selain mendaki gunung Vinson yang merupakan bagian dari tujuh puncak benua dunia, ia berniat juga menyelesaikan salah satu dari tantangan The Explorer’s Grand Slam, yaitu mencapai titik tengah Kutub Selatan bumi.

“Setiap orang punya struggle-nya masing-masing. Saya juga sering disepelekan sebagai  mountaineer perempuan. Sebenarnya itu wajar. Sebab dunia mountaineer ini kan fisikal. Mau tidak mau harus diakui bahwa secara fisik laki-laki lebih kuat. Lalu bagaimana ketika kita seorang perempuan ingin naik gunung? Jawabannya adalah kita harus bisa menyesuaikan strategi. Buat saya disepelekan itu it’s okeToh semuanya bakal ditentukan dengan ambisi, strategi, dan goals yang kita capai itu bagaimana,” kata Putri, yang merupakan lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI).

Menurutnya juga, misi utama kegiatan tersebut sebenarnya merupakan pemberdayaan perempuan. Bahwa tak harus karena gender, maka seseorang menjadi tak sejajar dalam melakukan sesuatu hal. Sebab menurutnya perempuan juga memiliki determinasi, dan strategi sendiri dalam mencapai sebuah tujuan.

Ripto Mulyono, seorang pendaki senior dari Mapala UI menanggapi positif terhadap mimpi yang dikejar Putri Handayani. Menurutnya kegiatan tersebut harus didorong dan ditanggapi dengan tangan terbuka.

“Hanya mengenai masalah pendakian ke gunung Everest, Putri harus lebih banyak berlatih di puncak-puncak berketinggian 7000-an ke atas. Sebab pendakian di atas ketinggian 7000 meter diatas permukaan laut sangat berbeda dan sulit sekali”, saran Ripto, yang juga merupakan mantan anggota tim Ekspedisi Everest Indonesia 1997 bersama Kopassus.

Terlepas dari semua kontroversi dan dukungan yang ada, perlu dipahami bahwa niat sebuah petualangan merupakan keinginan terdalam dari seorang manusia. Dengan petualangan maka manusia mencari hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah ada. Dan semoga upaya Putri juga menjadi hal baru yang membuka mata orang-orang di Indonesia, bahwa seorang perempuan juga punya daya juang yang bahkan melebihi laki-laki. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *