Views: 1
Pagi 7 Oktober 2000. Di puncak Gunung Everest, suhu mendekati −40 °C, oksigen sangat, dan hamparan salju berserakan tak teratur. Davo Karničar, mengenakan sepatu ski khusus dan masker oksigen, berdiri tegak di puncak Everest berketinggian 8.848 meter diatas permukaan laut (mdpl). Saat itu dia bukan lagi pendaki, tapi pemecah rekor yang belum pernah ada sebelumnya. Ia akan turun dari puncak gunung tertinggi dunia dengan menggunakan ski.
Tanpa jeda, ia mulai menuruni lereng selatan. Dalam waktu 4 jam 40 menit—sekitar 11.535 kaki vertikal—Davo meluncur menembus risiko tebing es yang runtuh, tumpukan salju rapuh, dan celah maut berlereng curam. Di sepanjang jalur ia melewati mayat pendaki yang terkubur salju:
“Melihat jasad itu benar-benar mengejutkan,” kenangnya seperti dikutip BBC.
Sampai akhirnya ia mencapai basecamp Everest. Ia mencapai basecamp dalam kelelahan luar biasa, tubuh gemetar, jari-jari kebas—dan rasanya, kebahagiaan pun sulit dirasakan dalam kondisi yang menurutnya membuat hampa dadanya.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Masa Kecil
Davorin “Davo” Karničar lahir 26 Oktober 1962 di Zgornje Jezersko, Slovenia—desa terpencil di kaki Alpen. Ayahnya adalah instruktur ski sekaligus penjaga pondok gunung. Dari usia tiga tahun, Davo sudah mengenakan ski, bangun pukul empat untuk latihan sebelum sekolah.
Ia memiliki tumbuh ramping dan tinggi sekitar 173 cm. Tubuh yang kuat tapi ringan, tapi ideal untuk bergerak dan beradaptasi di medan es tinggi . Wajahnya kurus, pipi cekung karena udara tipis, mata tajam menatap lereng gunung — sedikit keriput di sudut matanya menunjukkan pengalaman dan keseriusan. Suaranya tenang, perlahan, mencerminkan kedalaman pikiran dan cinta yang ia punya—bukan untuk ketenaran, tapi untuk salju, gunung, dan tantangan batin.
Tujuh Puncak Dunia
Awal mimpinya dimulai sejak pendakian gunungAnnapurna pada 1995. Ia kesana bersama saudaranya Andrej, di mana Andrej kehilangan delapan jari kakinya akibat frostbite, Saat itu Davo merasakan panggilan baru, menuruni gunung dengan menggunakan ski, dari puncak tertinggi di setiap benua. Gairah itu tak pernah surut meski ia sendiri pernah kehilangan dua jari tangan dalam percobaan Everest 1996. Saat itu badai memaksanya turun, tanpa kaki terpasang ski.
Setelah itu ia makin menggila. Tujuh puncak gunung di tujuh benua semua dituruninya dengan ski setelah mencapai puncaknya. Di Kilimanjaro, ia melawan bukan hanya batu dan salju, tetapi suhu tropis yang berubah cepat menjadi lumpur licin. Di Elbrus, badai muncul tanpa aba-aba. Di Aconcagua, ia muntah darah karena ketinggian. Di Denali, angin menusuk hingga ke sumsum. Ia harus tidur dalam tenda selama lima hari tanpa bisa keluar karena salju tak berhenti turun.
Pernah suatu kali, ia hampir menyerah. Bukan karena medan, tapi karena tubuhnya sendiri mulai memberontak. Lututnya cedera. Tulang belakangnya retak ringan setelah jatuh di gletser beku. Tapi tiap kali ia membuka peta dan melihat titik-titik yang belum disentuh ski-nya, ia kembali bangkit. “Aku tak ingin menjadi yang tercepat. Aku hanya ingin menjadi yang terdengar paling serius melakukannya,” ujarnya.
| No | Nama Gunung | Benua | Tinggi (mdpl) | Tanggal Ski Descent |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Everest | Asia | 8.848 | 7 Oktober 2000 |
| 2 | Kilimanjaro | Afrika | 5.895 | November 2001 |
| 3 | Elbrus | Eropa | 5.642 | Mei 2002 |
| 4 | Aconcagua | Amerika Selatan | 6.962 | Januari 2003 |
| 5 | Kosciuszko | Australia | 2.228 | Agustus 2003 |
| 6 | Denali (McKinley) | Amerika Utara | 6.190 | Juni 2004 |
| 7 | Vinson Massif | Antarktika | 4.892 | November 2006 |

Kematian
Pada 16 September 2019, di tanah rumahnya sendiri, Davo meninggal tragis akibat pohon yang ia tebang menimpa dirinya saat bekerja—sebuah kecelakaan yang seolah ironis bagi seorang pria yang selamat dari puncak terdingin dunia, lalu tumbang oleh pohon di halaman rumahnya.
Namun, kisahnya tak hilang begitu saja. Dalam setiap luncuran yang ia lakukan, dalam setiap butir salju yang tertinggal di belakangnya, ada pelajaran besar: bahwa naik ke atas memang perlu keberanian, tetapi turun dari sana membutuhkan kerendahan hati yang lebih besar. (Wage Erlangga)







