raja hawai

Kalakaua, Raja Pertama Keliling Dunia

Views: 7

Di tengah samudera Pasifik yang biru dan jauh dari hiruk pikuk Eropa yang kala itu menjadi poros dunia, berdiri sebuah kerajaan kecil bernama Hawaiʻi. Tahun 1881, dari pulau-pulau vulkanik itu, lahirlah sebuah kejutan: seorang raja kulit cokelat dengan jubah beludru dan tekad baja bernama David Laʻamea Kalākaua mengayunkan langkah pertama dalam sebuah misi nyaris mustahil—mengelilingi dunia.

Bukan sekadar wisata, bukan pula pelesir elitis seperti para bangsawan barat yang merayakan kejenuhan. Kalākaua berangkat membawa misinya sendiri: menyelamatkan bangsanya dari kepunahan. Populasi asli Hawaiʻi saat itu merosot drastis akibat penyakit dan kolonisasi. Budaya ditindih, hula dituduh kafir, dan tanah perlahan dijual ke orang asing. Kalākaua, yang dijuluki The Merrie Monarch, tahu bahwa untuk menyelamatkan akar, kadang kau harus pergi jauh dari batang.

Kalākaua bertemu dengan para pemimpin dunia dalam tur diplomatik keliling dunianya. (Photo: North Wind Picture Archives/Alamy)

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Mengunjungi Negara Dunia

Dalam diam dan percaya diri, ia memulai perjalanan sejauh 46.000 kilometer, tanpa satelit, tanpa konferensi Zoom, hanya dengan surat diplomatik dan martabat leluhur. Ia melintasi Pasifik menuju Asia—Jepang, Tiongkok, Siam—kemudian India, Mesir, dan Eropa, hingga kembali lewat Amerika Serikat. Perjalanan 281 hari ini membuatnya tercatat sebagai raja pertama dalam sejarah yang mengelilingi bumi.

Di Jepang, Kaisar Meiji menyambutnya dengan formalitas yang hanya diberikan pada kepala negara sejati. Lagu kebangsaan Hawaiʻi, Hawaiʻi Ponoʻī, ciptaan Kalākaua sendiri, bergema di istana. Bayangkan, di tengah budaya yang sangat menjunjung tata krama, lagu dari kerajaan mungil di Pasifik diberi ruang sejajar.

Di Tiongkok, Kalākaua berdiplomasi dengan Viceroy Li Hongzhang, merundingkan perekrutan tenaga kerja demi menyelamatkan sektor pertanian Hawaiʻi. Di Eropa, ia duduk bersama Ratu Victoria, mengunjungi Paus Leo XIII, dan menginap di hotel-hotel yang hanya biasa disinggahi oleh bangsawan kulit putih.

Festival Merrie Monarch merupakan salah satu pertunjukan budaya Hawai’i. Festival itu dibuat untuk memperingati raja terakhir Hawai’i. (Photo: Photo Resource Hawaii/Alamy)

Perkenalan Budaya

Namun bukan itu yang paling dikenang. Di setiap tempat, Kalākaua memperkenalkan identitas. Ia membawa budaya, bukan menyembunyikannya. Mengenakan kain tradisional dan berbicara tentang hula, nyanyian kelahiran Kumulipo, dan kehidupan rakyatnya. Ia bukan raja yang minder di hadapan dunia. Ia adalah Hawaiʻi itu sendiri: kecil, jauh, tapi tak bisa diabaikan.

Sekembalinya ke tanah air, Kalākaua mendirikan program Hawaiian Youths Abroad, mengirim pemuda-pemuda terbaik ke luar negeri untuk belajar kedokteran, militer, dan teknik. Ia sadar, kemajuan tak bisa dibendung, tapi juga tak boleh menenggelamkan akar.

Tetapi seperti para pemimpin besar yang terlalu jauh berpikir ke depan, Kalākaua pun tak luput dari fitnah. Lawan politiknya menuduh perjalanan itu hanya gaya hidup borjuis. Ia dianggap menghamburkan dana kerajaan. Ada pula yang menyebar isu bahwa sang raja hendak menjual Hawaiʻi ke Jepang.

Namun sejarah, pada akhirnya, membela mereka yang jujur kepada masa depan. Kalākaua tak hanya menyelamatkan identitas budaya, tapi juga membuka jalan migrasi dari Jepang dan Portugal, yang hingga kini menjadi bagian penting dari demografi Hawaiʻi.

Hingga hari ini, di kota Hilo, pulau Hawaiʻi Besar, setiap tahun diadakan Festival Merrie Monarch. Hula kembali ditarikan. Lagu Hawaiʻi Ponoʻī dinyanyikan. Dan nama Kalākaua, sang raja keliling dunia, dikenang bukan karena gelarnya, tapi karena keberaniannya membela yang tak terlihat—akar budaya, bahasa, dan martabat rakyatnya.

Seorang raja yang tahu bahwa terkadang, untuk menyelamatkan tanah, kau harus mengarungi samudera.

Dan mungkin, dalam peluh dan pelayaran itulah, Kalākaua tidak hanya menyelamatkan negerinya, tapi juga memberi dunia satu pelajaran penting: bahwa kekuasaan sejati bukan soal luas wilayah, tapi dalam seberapa dalam ia mencintai bangsanya. (Wage Erlangga)

Baca juga:

Lanjut lagi...

Sisa Perang Dunia Membuka Luka Baru Lautan

begonia kalimantana

Bukit Raya Simpan Dua Begonia Cantik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *