Views: 2
Gunung Semerudi Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Rabu (19/11/2025) dengan luncuran awan panas yang mencapai antara hingga 16 kilometer (km) dari puncak gunung. Otoritas vulkanologi menegaskan bahwa seluruh aktivitas pendakian ke gunung Semeru dihentikan total. Jalur pendakian resmi Tumpang—Ranupani—Kaliklatak—Kalimati ditutup tanpa batas waktu sampai kondisi dinyatakan aman kembali.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan peringatan keras setelah seismograf mencatat amplitudo gempa letusan mencapai 40 milimeter dengan durasi hampir 17 menit, salah satu aktivitas seismik paling kuat yang tercatat sepanjang 2025. Kolom abu erupsi juga teramati membumbung setinggi sekitar 2.000 meter di atas kawah, menandakan letusan eksplosif yang membawa material vulkanik dalam jumlah besar.
“Awan panas guguran hari ini meluncur hingga tujuh kilometer, dan potensi perluasan tetap ada. Kami mengimbau masyarakat, termasuk pendaki, untuk menjauhi radius delapan kilometer dari sektor tenggara Semeru,” kata Mukdas Sofian, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru kepada kantor berita Antara. Ia menegaskan bahwa kondisi erupsi bersifat dinamis dan sangat berbahaya bagi siapa pun yang berada di jalur pendakian, mengingat kecepatan awan panas dapat melampaui kemampuan manusia untuk menyelamatkan diri.
Resiko Lahar di Sungai
PVMBG juga mengingatkan bahwa bahaya sekunder berupa lahar dingin berpotensi terjadi di sungai-sungai yang berhulu dari puncak Semeru. Aliran seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, dan sektor Kembar rentan membawa material vulkanik saat curah hujan meningkat. Bagi pendaki, risiko ini dapat menjebak mereka di tengah jalur evakuasi yang sempit dan tidak stabil. Curah hujan yang tinggi di kawasan Lumajang dalam beberapa hari terakhir membuat risiko lahar meningkat secara signifikan.
Pendaki dilarang keras mendaki dalam situasi seperti ini. “Pendakian dilarang total. Pendaki harus memahami bahwa awan panas tidak bisa diprediksi dan dapat meluncur jauh dengan kecepatan yang tidak mungkin dihindari manusia. Ini bukan situasi untuk mengambil risiko,” tegas Sofian. Kawasan Kalimati, Arcopodo, dan Mahameru berada dalam zona bahaya ekstrem karena berada dalam jangkauan lontaran batu pijar dan material guguran yang menyertai erupsi.

Reschedule Pendakian Gunung Semeru
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) menyatakan bahwa pendaki yang telah mengantongi SIMAKSI dapat menjadwalkan ulang pendakian tanpa biaya tambahan setelah gunung dinyatakan aman. Mereka juga meminta pendaki yang terlanjur tiba di Ranupani untuk segera turun ke wilayah aman. Peringatan khusus diberikan kepada pendaki yang sering mencoba masuk melalui jalur alternatif atau jalur warga. Pihak taman nasional mengingatkan bahwa jalur tersebut tidak termasuk dalam sistem pemantauan maupun evakuasi resmi sehingga sangat membahayakan keselamatan.
Dalam beberapa erupsi besar sebelumnya, Semeru pernah melontarkan material pijar hingga lebih dari dua kilometer dari kawah. Dengan intensitas seismik tinggi dan awan panas yang melaju hampir sembilan kilometer, para ahli menilai bahwa erupsi hari ini setidaknya setara dengan erupsi level menengah hingga besar dalam pola aktivitas gunung pada 2025. Pendaki diminta tidak membuat rencana pendakian ke Semeru dalam waktu dekat karena fase erupsi seperti ini dapat berlangsung selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung dapat dipantau melalui kanal PVMBG, Badan Geologi, BBTNBTS, serta Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur. Para pakar mengingatkan bahwa Semeru merupakan gunung dengan pola erupsi berulang yang tidak dapat diprediksi secara tepat, sehingga disiplin mengikuti informasi resmi adalah kunci keselamatan.
Sementara itu, komunitas pendaki Indonesia diimbau untuk mempertimbangkan jalur pendakian lain jika ingin tetap melakukan aktivitas pendakian gunung, namun tetap memeriksa status gunung tujuan terlebih dahulu. Sejumlah gunung di Jawa Timur dan Jawa Tengah juga menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak Oktober, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan. (Wage Erlangga)





