perubahan iklim pada gunung australia

Perubahan Iklim Menulis Ulang Lansekap Pendakian Gunung Australia

Views: 2

Pada pagi yang sejuk di pegunungan salju Australia, Ruby Olsson dulu selalu memulai pendakian dengan suara salju yang berderak di bawah sepatunya. Kini, makin jarang suara derak salju. Yang semakin sering terlihat justru lumpur dan rerumputan. “Pegunungan ini berubah lebih cepat dari yang pernah kita bayangkan,” kata Olsson, seorang peneliti doktoral di Australian National University (ANU) dan penulis utama laporan tahun 2024 berjudul Our Changing Snowscapes (Bentang Salju yang Berubah).

Ucapannya menggambarkan kesadaran yang kian tumbuh di kalangan pecinta alam Australia. Bahwa lansekap yang dulu menjadi lambang petualangan kini berubah di bawah tekanan perubahan iklim.

Menurut laporan State of the Climate 2024 dari CSIRO dan Biro Meteorologi (BoM) Australia, suhu rata-rata Australia telah meningkat sebesar 1,51°C sejak tahun 1910, dengan gelombang panas yang lebih sering dan intens, musim kebakaran hutan yang lebih panjang, serta pola curah hujan yang bergeser.

“Tanda-tandanya ada di mana-mana — dari pesisir hingga pegunungan tinggi,” ujar Dr. Karl Braganza, Manajer Layanan Iklim di BoM. “Kita melihat peningkatan cuaca ekstrem yang memicu kebakaran, berkurangnya salju, dan semakin seringnya gelombang panas laut. Tren-tren ini tidak hanya mengubah ekosistem, tapi juga cara orang Australia menikmati alam bebas.”

Bagi para pendaki, hal itu berarti musim yang semakin sulit diprediksi, jalur pendakian yang sering ditutup, dan risiko lebih besar terhadap dehidrasi serta suhu ekstrem. Petualangan khas Australia yang spontan, liar, dan bebas, kini menuntut perencanaan yang jauh lebih matang.

Salju Menghilang karena Perubahan Iklim

Dalam laporan Our Changing Snowscapes, Olsson dan rekan penulisnya, termasuk Profesor Adrienne B. Nicotra, Direktur Australian Mountain Research Facility, menemukan bahwa Pegunungan Alpen Australia dapat kehilangan hingga 55 hari tutupan salju pada tahun 2050 jika emisi tetap tinggi.

“Banyak spesies alpen yang bergantung pada salju,” kata Prof. Nicotra. “Ketika salju mencair terlalu cepat, yang berubah bukan hanya pemandangan, tapi juga peluang hidup bagi tumbuhan dan hewan, dan pada akhirnya, pengalaman manusia di pegunungan ini.”

Penelitian itu memperkirakan penurunan curah hujan sebesar 5–24% di zona alpen pada pertengahan abad ini. Para pendaki yang terbiasa melakukan ekspedisi musim dingin kini menghadapi lereng yang gersang dan jalur yang tererosi, sementara resor ski menghadapi musim operasi yang semakin pendek.

“Setiap musim dingin terasa datang lebih lambat dan pergi lebih cepat,” ujar Olsson. “Ini bukan sekadar data, kami melihatnya langsung di lapangan.”

Petualangan di Bawah Tekanan

Dampaknya meluas jauh melampaui wilayah bersalju. Climate Council of Australia memperingatkan bahwa perubahan iklim mengancam identitas pariwisata Australia. Mulai dari penyelaman di terumbu karang hingga trekking di gurun. Kebakaran hutan, banjir, dan suhu ekstrem telah memaksa penutupan taman nasional, merusak akses jalan, serta mengganggu ekonomi lokal.

“Pariwisata petualangan berada di garis depan dampak perubahan iklim,” kata Dr. Jaci Brown, Direktur Riset di CSIRO’s Climate Science Centre. “Setiap musim kini membawa ketidakpastian baru.”

Untuk beradaptasi, beberapa operator wisata mulai memperkenalkan jadwal perjalanan yang sadar iklim. Pendakian lebih awal, perjalanan malam hari, dan tur ekowisata di luar musim yang meminimalkan paparan panas. Taman-taman nasional juga mulai menguji sistem peringatan waktu nyata bagi pendaki saat terjadi cuaca ekstrem atau ancaman kebakaran.

Namun, kemampuan beradaptasi manusia ada batasnya. “Risiko fisik meningkat lebih cepat daripada kemampuan kita mengelolanya,” kata Olsson. “Kami berusaha mendokumentasikan dan melindungi apa yang tersisa sebelum berubah menjadi sesuatu yang tak lagi dikenali.”

Ketika Petualangan Menjadi Kesaksian

Bagi banyak orang Australia, mendaki selama ini menjadi bentuk pelarian. Seperti cara untuk melepaskan diri dari hiruk-pikuk kehidupan. Kini, kegiatan itu justru menjadi cara untuk kembali terhubung dengan kenyataan. Garis salju yang menghilang, sisa-sisa hutan yang hangus terbakar, dan dasar sungai yang mengering. Semuanya menceritakan kisah yang telah lama dihitung oleh para ilmuwan seperti Olsson dan Nicotra.

“Ini bukan lagi ancaman yang jauh,” ujar Prof. Nicotra. “Perubahan iklim sedang menulis ulang lanskap Australia di depan mata kita. Pegunungan kini menjadi ruang belajar hidup tentang seperti apa masa depan nanti.”

Beberapa pendaki mulai mendokumentasikan perubahan ini secara daring, mengubah petualangan mereka menjadi bentuk citizen science, seperti berbagi foto pencairan gletser, air terjun yang kering, dan pertumbuhan tanaman invasif di daerah ketinggian.

Meski proyeksinya suram, para peneliti menegaskan bahwa belum terlambat untuk bertindak. Laporan Our Changing Snowscapes memberikan peta jalan adaptasi, berupa pengurangan emisi yang lebih kuat, investasi dalam pemulihan ekosistem, dan pengembangan pariwisata petualangan berjejak rendah.

“Semangat penjelajahan masih hidup,” kata Olsson. “Namun kini, menjelajah berarti memahami betapa rapuhnya lingkungan ini — dan apa yang diperlukan untuk menjaganya tetap hidup.”

Bagi para petualang Australia, tantangan ke depan bukan lagi sekadar soal daya tahan atau kemampuan navigasi. Tantangannya adalah belajar mendaki dengan kesadaran — melangkah ringan di jalur-jalur yang perlahan menghilang di bawah kaki. (Sulung Prasetyo)

Baca juga:

Artikel Dari Penulis Yang Sama

orangutan malaria

Orangutan Ternyata Bisa Terkena Malaria

lingkungan afrika

Rahasia Tersembunyi Cerita Lingkungan Afrika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *