20 Mei 2024
dondy rahardjo
Diantara sejuk angin, rerumputan halus dan gemerisik bambu. Mungkin memang tempat ini yang menjadi idaman Djajo, tak ingin merasa sepi bersama alam disekitarnya.

Views: 0

Wajah cerianya tiba-tiba berubah letih. Terakhir ia lebih banyak terdiam. Sangat berbeda dari yang saya kenal sebelumnya. Dondy “Djajo” Rahardjo setahu saya sangat tak bisa diam. Banyak tertawa dan ngobrol sana-sini tentang apa saja. Sepertinya, maaf kata, ia mirip handphone yang mau kehabisan batere.

Pertemuan di medio Agustus 2023 itu ternyata menjadi saat terakhir saya bertemu langsung dengan Djajo. Diantara hiruk pikuk kegiatan di sekretariat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), yang kala itu sedang mempersiapkan keberangkat atlit panjat tebing mengikuti kejuaraan dunia di Bern, Swiss.

Tepat dua bulan setelahnya,  saya mendengar kabar Djajo tergeletak tak berdaya di bangsal rumah sakit. Di awal Oktober 2023, beberapa rekan di dunia petualangan alam bebas di Indonesia memberi informasi kabar yang sama. Dari teman-teman sesama pendaki gunung, hingga para petualang di lautan. Semua menyebarkan informasi yang serupa, “Bang Djajo sakit, kapan kita bisa menjenguknya?”.

Tak terbayang, betapa besar perhatian kawan-kawan dunia petualangan alam bebas mengenai kondisi Djajo. Tak terbayangkan juga sangat luas sekali hubungan pertemanan Djajo diantara para penggemar aktivitas alam bebas. Maka pantas kalau dia seperti menjadi bagian banyak organisasi kegiatan alam bebas.

Salah satunya, Djajo juga menjadi anggota kehormatan di Mapala UI. Anggota organisasi itu bahkan rela bersibuk ria membuka pengumpulan dana, untuk membantu biaya pengobatan Djajo di rumah sakit. Meski sempat bersitegang juga, lantaran muncul foto yang dianggap tak pantas, ketika update kondisi Djajo muncul di obrolan grup WA salah satu pecinta alam tertua di Indonesia itu.

Tak cuma di Mapala UI, saat saya bertemu Rahmat Abbas, Ketua Harian Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) obrolan tentang kondisi Djajo juga mengemuka. Intinya banyak anggota FMI yang khawatir dengan kondisi Djajo terakhir, dan berniat membantu keluarganya bergantian menjaga di rumah sakit.

Dondy ‘Djajo’ Rahardjo memberikan materi High-Angle Rope Rescue Technique kepada Mapala Unisi.
(dok. Wartapala Indonesia/ Ratdita Anggabumi T)

Senang Berbagi

Dari semua perhatian yang ada, muncul satu pertanyaan besar di kepala saya. Apa yang telah dilakukan Djajo, sampai-sampai semua pegiat alam bebas yang saya kenal sepertinya sangat memberi perhatian pada kondisi terakhirnya?

Jawaban itu baru saya temukan, saat akhirnya berkesempatan menyambangi di saat terakhir sebelum pemakaman Djajo, Selasa (10/10/2023). Diantara keheningan para pelayat, beberapa kata perpisahan yang diucapkan rekan-rekan terdekat Djajo menyatakan hal tersebut.

Salah satunya diucapkan Tonny Dumalang, dari Wanadri mengatakan kalau Djajo ini tipe orang yang sangat senang berbagi. Terutama urusan ilmu pengetahuan berkegiatan di alam bebas dan peralatan kegiatan petualangan. “Ton, kaki elo itu seperti mimikri, sepatu jenis apa saja yang gue kasih ke elo sepertinya masuk saja”, cerita Tonny memberi kesan betapa murah hatinya Djajo memberikan barang-barang yang dibutuhkan teman-temanya untuk bertualang.

Tak hanya barang, Djajo juga terkenal berbagi tentang ilmu pengetahuan berkegiatan di alam bebas. Salah satu ilmu khusus yang sering dibaginya merupakan tehnik menyelamatkan korban pada daerah ketinggian berkondisi vertikal dan ekstrem. Harus diakui, ilmu tersebut bukan sembarang dimiliki orang, karena spesifik materi dan praktek yang sangat sulit dilakukan atau terjadi dilapangan.

Suasana di rumah duka sebelum alm. Dondy ‘Djajo’ Rahardjo dimakamkan, Selasa (10/10/2023). (dok. Sulung Prasetyo)

Senang Mencari Ilmu

Kesenangan Djajo dalam berbagi ilmu skill kegiatan alam bebas itu juga mungkin dilatari dengan rasa haus dirinya dalam menimba berbagai ilmu petulangan alam bebas. Diawali dengan cerita-cerita Heryus Saputro, tentang petualangan-petualangannya bersama Djajo, informasi in memoriam dari Ahmad ‘Nanang’ Rizali dari Mapala UI dalam facebok, hingga cerita-cerita kawan organisasi Gimbal Alas dalam media sosialnya, jelas kalau Djajo tipe orang yang suka menggali dan mencari ilmu pengetahuan berkegiatan alam bebas kemana-mana.

Urusan mendaki gunung dan panjat tebing, Djajo sudah bisa dibilang sebagai ekspertis yang mengalami praktek dalam berbagai situasi dan kondisi. Di dunia petualangan bawah tanah, atau telusur goa, ia mendapat ilmu dari Norman Edwin, dedengkot Mapala UI yang juga memepolori kegiatan petualangan bawah tanah itu di Indonesia Bersama Garbabhumi dan Specavina. Pada petualangan sungai, ia bersama Lody Korua berkecimpung dan turut membesarkan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI). Terakhir ia bahkan kabarnya sedang mempelajari ilmu terbang di udara dengan paragliding di organisasi Papatong bersama dedengkotnya, Gendon Subandono.

Sayangnya sebelum menjadi pilot, Djajo sudah keburu dipanggil Yang Maha Kuasa. Jasadnya terakhir saya lihat dikebumikan pada makam khusus yang berada di dalam bagian Jagorawi Golf & Country Club. Diantara sejuk angin, rerumputan halus dan gemerisik bambu. Mungkin memang tempat ini yang menjadi idaman Djajo, tak ingin merasa sepi bersama alam disekitarnya. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *