Views: 12
Gunung-gunung kini sedang mengalami perubahan. Bukan hanya kondisi hutan yang makin menyusut, namun gunung juga berubah titik puncak tertingginya. Gunung berubah puncak tertingginya, lantaran lapisan es dipuncaknya kini makin menipis karena pemanasan global. Seperti di gunung Rainier di Amerika Serikat dan Pegunungan Tengah Papua, Indonesia.
Seperti di gunung Reinier, dalam sebuah penelitian terbaru dikabarkan mengalami perubahan dan penurunan titik ketinggian, karena makin menipisnya lapisan es di puncak. Perubahan pada Rainier terungkap melalui survei presisi tinggi yang dilakukan Eric Gilbertson, pendaki yang juga insinyur mekanik dari Seattle University. Menggunakan alat GPS dengan akurasi hingga tingkat sentimeter, Gilbertson menemukan bahwa Columbia Crest — kubah es yang selama puluhan tahun dianggap sebagai puncak tertinggi Rainier — sudah menyusut cukup jauh untuk dilampaui oleh tonjolan batu di tepi barat daya kawah. Puncak yang kita kenal selama ini rupanya lambat laun turun dari tahtanya. Hasil penelitian berjudul Rapid contemporary shrinking and loss of ice-capped summits in the western United States tersebut kemudian dipublikasikan Gilbertson dalam jurnal Arctic, Antarctic, and Alpine Research, edisi November 2025.
Pengukuran Gilbertson menunjukkan Columbia Crest kini berada di 14.389,2 kaki, sementara tepi kawah berbatu itu menjulang sedikit lebih tinggi di 14.399,6 kaki. Perbedaan sepuluh kaki itu mungkin tampak kecil, tetapi di dunia ilmiah, ini adalah perubahan besar.
“Ini berarti puncak es Rainier telah kehilangan sekitar 21,8 kaki (kira-kira 6,65 meter — red) sejak pengukuran resmi pada akhir 1990-an”, urai Gilbertson dalam jurnal penelitian tersebut. Cukup untuk menggeser definisi “puncak” yang selama ini digunakan pendaki dan lembaga pemetaan.
Es Menipis
Pihak taman nasional sudah menerima temuan tersebut. Geolog Mount Rainier National Park, Scott Beason, menyebut data Gilbertson “kredibel dan rinci,” meskipun penetapan resmi tetap menunggu pemeriksaan National Geodetic Survey. Bagi Beason, perubahan ini bukan hanya angka, tetapi cerita tentang gunung yang tengah ditulis ulang oleh iklim.
USGS sendiri belum memperbarui ketinggian Rainier di database mereka, tetapi mereka mengakui bahwa semua tanda-tanda mengarah pada kesimpulan yang sama. Es sedang mencair lebih cepat dari sebelumnya. Tidak ada pergerakan tektonik, tidak ada mengembangnya tubuh vulkanik. Hanya hilangnya es — lapis demi lapis — yang membuat gunung ini perlahan merendah. Rainier telah kehilangan sekitar 14 persen volume gletser sejak 1970, dan penurunan itu semakin cepat dalam dua dekade terakhir.

Carstensz Juga Sama
Kejadian serupa juga dialami Pegunungan Tengah Papua, Papua. Seperti di gunung Rainier, permukaan salju di puncak-puncak Pegunungan Tengah Papua juga menyusut dengan cepat. dalam buku Carstensz Pyramid I’m Coming terbitan Lingkar Bumi disebutkan jumlah luasan salju di Pegunungan Tengah Papua juga disinyalir terus berkurang. Pada laporan penelitian JL Kincaid dan AG Klein mengenai luasan salju Papua, terbukti adanya jumlah luasan yang terus berkurang. Kincaid dan Klein yang melakukan penelitian pada tahun 2003 melalui penilaian luasan melalui citra satelit, dan dikomparasi dengan laporan-laporan sebelumnya terlihat tren jumlah luasan salju Pegunungan Tengah yang makin sedikit.
Bukti paling terakhir adalah jumlah luasan yang berbeda, saat citra satelit diambil pada tahun berbeda antara 2000 dan 2002, namun pada hari dan bulan yang sama. Dari hasil perbandingan tersebut terbukti adanya penurunan jumlah luasan hingga ratusan kilometer persegi (km2). Pada tahun 2000 jumlah luasan salju mencapai 2.326 km2, namun pada tahun 2002 jumlah luasan menurun menjadi 2.152 km2.

Studi gabungan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Colorado Boulder, yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience (2024), menemukan bahwa gletser Carstensz telah kehilangan lebih dari 90 persen volume esnya sejak 1980-an dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya sebelum tahun 2035.
Wilayah ini kini menarik perhatian para pendaki dan wisatawan petualangan yang ingin melihat “salah satu gletser tropis terakhir di Bumi” — meski para ilmuwan memperingatkan bahwa peningkatan aktivitas wisata dapat mempercepat pencairan dan kerusakan tanah di sekitarnya.
“Carstensz adalah simbol kuat sejauh mana perubahan iklim telah menjangkau,” kata Dr. Donaldi Permana, ahli glasiologi BRIN. “Bukan hanya Arktik atau Himalaya — bahkan daerah tropis pun kehilangan esnya.”
Pemanasan global yang meningkatkan suhu bumi, berdampak sedemikian dahsyatnya bagi banyak fenomena di bumi ini. Penyusutan salju merupakan salah satu buktinya. Selain juga perubahan iklim dan kerusakan terumbu karang karena pemutihan. Namun disisi lain, dari berbagai bukti tersebut, masih banyak orang yang menafikan. Apa harus menunggu semua hilang dulu, baru kita sepenuhnya menyadarinya? (Sulung Prasetyo)





