14 Juli 2024
vinson massif
Dua jam setelah pendakian, salah satu anggota tim kami, Putri, mulai merasakan kedinginan yang melemahkan di tangannya dan jari-jarinya kehilangan rasa. Sayangnya, ramalan cuaca memperkirakan akan terjadi angin kencang pada hari berikutnya sehingga ekspedisi kami pun berakhir.

Views: 45

Petualang perempuan Indonesia, Putri Handayani dikabarkan terancam gagal mencapai puncak Vinson Massif di benua Antartika. Menurut situs operator perjalanan adventure consultants, pada tanggal 14 Desember 2023, Putri diberitakan mengalami masalah kedinginan yang menghilangkan rasa pada tangannya (gejala frostbite-red). Karena masalah tersebut rencana pendakian hari itu kemudian digagalkan. Sayangnya pada hari berikutnya pendakian juga tidak dilanjutkan, karena perkiraan cuaca badai. Karena waktu pendakian dianggap telah selesai, maka keseluruhan tim kemudian kembali ke camp utama, dengan tidak mencapai ke puncak tertinggi di Kutub Selatan tersebut.

“Baru kemarin pagi tanggal 12, tim kecil kami meninggalkan high camp untuk melakukan tantangan menuju puncak Gunung Vinson, tujuan ekspedisi kami. Malam yang sangat dingin dan berangin menghambat usaha kami, namun angin mulai berkurang di pagi hari sehingga kami meninggalkan kamp sekitar pukul 11.00 pagi dengan angin sepoi-sepoi. Dua jam setelah pendakian, salah satu anggota tim kami, Putri, mulai merasakan kedinginan yang melemahkan di tangannya dan jari-jarinya kehilangan rasa. Kami menghabiskan waktu setengah jam untuk mencoba menghangatkan kembali tangan Putri, namun ia tidak merespon sehingga kami tidak punya pilihan lain selain turun kembali ke high camp di mana Putri pulih dan tangannya kini baik-baik saja,” demikian dituliskan operator perjalanan adventure consultants mengenai perjalanan tersebut.

Adventure consultants sendiri merupakan operator perjalanan petualangan yang bekerjasama dengan Tim Jelajah Putri Indonesia, untuk mewujudkan mimpi Putri Handayani mencapai puncak tertinggi di benua Antartika tersebut.

Suasana di High Camp Vinson Massif pada pendakian ekspedisi ke gunung tertinggi di benua Antartika Desember 2023. (Photo: dok.adventure consultants)

Gagal Ke Puncak

“Pembelajaran penting dari hal ini adalah untuk segera merespons potensi skenario radang dingin dan tidak menunda pengambilan keputusan dalam manajemen konservatif untuk menghindari cedera dingin. Sayangnya, ramalan cuaca memperkirakan akan terjadi angin kencang pada hari berikutnya sehingga ekspedisi kami pun berakhir. Meskipun hasilnya mengecewakan bagi kelompok kami yang telah bekerja dengan baik dan tidak mencapai puncak, namun kesejahteraan setiap individu dalam tim sangat penting. Setelah membuat keputusan, kami turun ke base camp di hari yang sangat melelahkan dan tiba di base camp setelah tengah malam,” demikian tambahan informasi yang diberikan adventure consultants.

Dikonfirmasi mengenai masalah ini, tim media Jelajah Putri Indonesia, Yorgi Gusman menyatakan memang ada masalah pada cuaca yang terus buruk disana. Namun upaya pendakian masih tetap dilakukan.

“Terkendala cuaca buruk. Jadi diputuskan untuk kembali ke camp, sambil menyusun strategi kembali”, urai Yorgi melalui pesan di telepon genggam pada 14 Desember 2023.

Ke Kutub Dulu Baru Coba Ke Puncak Vinson Lagi

Kemudian turut memberikan pernyataan melalui akun Instagram miliknya, Putri Handayani menjelaskan memang mengalami masalah kedinginan pada tangan saat mendaki ke puncak Vinson Massif. Kondisi dingin itu baru bisa hilang saat menyembunyikan tangan ke dalam ketiak salah satu guide perjalanan tersebut.

Putri juga menjelaskan mengenai beratnya kegiatan pendakian ke puncak Vinson. Ia menyebutkan harus membuat camp baru di titik terakhir sebelum puncak. Proses pembangunan camp juga tak mudah, karena harus menggali salju, meratakan dan memastikan salju dalam kondisi aman.

“Kami turun dalam kondisi kelelahan. Memang ada rencana mendaki lagi ke puncak Vinson, tapi kebanyakan anggota tim akan merayakan Natal terlebih dahulu. Jadi rencananya baru akan mendaki lagi setelah menuju titik tengah Kutub Selatan”, urai Putri.

Dedy Satria, dari Mapala UI yang pernah mendaki gunung Vinson Massif juga menyayangkan bila Putri mengalami masalah kedinginan dan gejala frostbite di gunung tersebut. Menurutnya mungkin ada masalah pada peralatan yang dipakai, atau prosedur pemakaian peralatan yang digunakan.

“Di suhu rata-rata minus 42 derajat celcius disana, pemakaian peralatan tak bisa main-main. Sebab yang bisa menyelamatkan kita dari bahaya dingin hanya peralatan. Jadi kemungkinan masalah pemakaian atau jenis peralatan yang dipakai menjadi masalah utama”, analisa Dedy ketika dihubungi Kamis (14/12/2023).

Gejala frostbite sendiri merupakan penyakit radang dingin yang kerap menimpa pendaki gunung. Dinginnya suhu membuat ada beberapa titik dibagian tubuh yang mengalami akumulasi kebekuan tinggi. Beberapa titik yang jauh dari jantung, seperti hidung, jari tangan dan kaki, biasanya terkena dampak dari frosbite. Dampak tersebut terlihat dengan bagian tubuh yang makin menghitam. Pada kondisi yang sangat serius bagian tubuh tersebut bisa terpaksa harus diamputasi untuk menghindari penyebaran.

Sementara Putri Handayani sendiri berniat mendaki gunung Vinson Massif dan mencapai titik Kutub Selatan untuk meraih gelar Explorer’s Grand Slam. Event tersebut merupakan pendakian ke tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua, dan pencapaian ke titik tengah Kutub Utara dan Kutub Selatan. Sejauh ini Putri telah mendaki ke lima titik puncak gunung tertinggi dunia. Kesempatan ke Vinson Massif merupakan puncak ke enam, dan kutub pertama yang harus dicapai, sebelum mencapai  mimpi sebagai perempuan perempuan di Asia Tenggara yang meraih gelar bergengsi tersebut. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *