proyek geothermal

Partisipasi Publik Tentukan Kesuksesan Proyek Geothermal

Views: 2

Partisipasi publik kini menjadi penentu keberhasilan proyek geothermal di berbagai negara, menurut laporan ilmiah terbaru yang menempatkan aspek sosial sebagai fondasi penting dalam pengembangan energi panas bumi. Studi berjudul Preferably safe and small: Findings from a risk-cost-benefit analysis (RCBA) of enhanced geothermal systems (EGS), diterbitkan oleh jurnal Energy Research & Social Science (Elsevier) pada November 2025, menegaskan bahwa penerimaan masyarakat lokal dapat menentukan hidup-matinya proyek geothermal—terlepas dari seberapa canggih teknologi yang digunakan.

Laporan tersebut membandingkan persepsi masyarakat di Swiss dan Utah (Amerika Serikat), dua wilayah yang memiliki riwayat kuat dalam riset dan eksperimen Enhanced Geothermal Systems (EGS). Melalui dua survei representatif populasi, peneliti menemukan bahwa masyarakat lebih mendukung proyek geothermal apabila dikembangkan dalam skala kecil, transparan, dan melibatkan warga sejak awal diskusi.

“Masyarakat tidak menolak teknologi. Mereka menolak ketidakpastian,” ujar Dr. Sanni Kunnas, peneliti utama dalam studi tersebut. “Ketika risiko—seperti potensi gempa terinduksi—tidak dijelaskan dengan jujur dan manfaatnya tidak dirasakan merata, resistensi publik menjadi tidak terhindarkan.”

Kunnas menambahkan bahwa proyek yang dimulai dengan skala kecil memberi ruang bagi masyarakat untuk memahami proses, melihat bukti keselamatan, dan membangun kepercayaan terhadap pengembang. “Temuan kami menunjukkan bahwa pendekatan safe and small bukan hanya strategi teknis, tetapi juga strategi sosial,” katanya.

Minim Dialog Bisa Membuat Proyek Gagal

Dalam studi tersebut, para peneliti menyoroti bahwa sejumlah proyek EGS di Eropa dan Amerika pernah dihentikan bukan karena kegagalan teknis, melainkan karena kegagalan sosial—seperti protes warga, kurangnya konsultasi, dan persepsi bahwa risiko hanya ditanggung oleh masyarakat lokal sementara manfaat mengalir ke pihak lain.

“Proyek geothermal sering kali gagal bukan di bawah tanah, tetapi di atas meja—dalam fase komunikasi dan konsultasi,” jelas Sara Wallinger dari Universitas Jenewa, salah satu penulis laporan yang lain. Ia menekankan bahwa penilai risiko yang hanya berbasis data teknis tidak cukup. “Dimensi etika dan keadilan harus masuk ke dalam perhitungan; itu pesan besar dari penelitian ini.”

Potensi panas bumi di Indonesia menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pelajaran Penting Buat Indonesia

Sebagai negara dengan potensi geothermal terbesar kedua di dunia, Indonesia bukan tanpa tantangan. Penundaan proyek akibat penolakan masyarakat pernah terjadi di beberapa daerah, terutama ketika warga merasa tidak mendapat informasi yang memadai atau tidak diajak bicara sejak awal.

Pengalaman Swiss dan Utah memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Pembangunan geothermal tidak dapat hanya didorong oleh kebutuhan energi nasional; ia harus berdiri di atas dialog, transparansi, dan pelibatan warga dalam pengambilan keputusan.

Menurut laporan tersebut, pelibatan publik sebaiknya dilakukan sejak tahap eksplorasi. Ini mencakup sosialisasi risiko, diskusi mengenai manfaat lokal, mekanisme kompensasi, hingga pemantauan lingkungan yang dapat dilakukan bersama komunitas.

Energi Bersih Butuh Legitimasi Sosial

Selain urgensi transisi energi global, peneliti menekankan bahwa energi panas bumi membutuhkan “legitimasi sosial” agar dapat berkembang secara berkelanjutan. “EGS adalah teknologi rendah karbon yang sangat potensial, tetapi tanpa dukungan masyarakat, ia tidak akan jalan,” kata Kunnas.

Ia menegaskan bahwa kebijakan energi tidak boleh mengabaikan sentimen lokal. “Jika warga percaya bahwa mereka didengar, dipertimbangkan, dan ikut menentukan, konflik akan berkurang, dan proyek akan lebih stabil secara jangka panjang.”

Temuan dari jurnal Energy Research & Social Science ini memperkuat pandangan bahwa energi bersih tidak hanya masalah teknologi dan biaya. Keberhasilan geothermal terletak pada sejauh mana masyarakat dilibatkan, dihargai, dan diberi ruang untuk berpartisipasi.

Dengan ambisi Indonesia memperluas kapasitas geothermal dalam dua dekade ke depan, pesan dari studi ini jelas. Transisi energi hanya bisa berhasil jika berjalan bersama publik, bukan di atasnya. (Sulung Prasetyo)

Baca juga:

Artikel Dari Penulis Yang Sama

demam berdarah

Perubahan Iklim Perburuk Kejadian Demam Berdarah

perilaku berciuman

Menelusuri Perilaku Berciuman Dari Sebelum Manusia Ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *