16 Juli 2024
wanadri transplantasi terumbu karang di kepulauan seribu jakarta
60 persen  terumbu karang yang ada di Kepulauan Seribu sekarang terhitung rusak. Penyebab kerusakan disebutkan berasal dari ulah manusia dan perubahan kondisi alam.

Views: 1698

Kumpulan para penyelam yang berwisata di Indonesia masih kerap merusak terumbu karang. Padahal perlu disadari pertumbuhan terumbu karang membutuhkan waktu yang sangat lama. Hal itu bisa menjadi kerugian secara menyeluruh. Jangka pendek secara estetika terumbu karang yang rusak menjadi tak layak dikunjungi, sementara jangka panjang terumbu karang yang rusak tidak bisa menjadi rumah berkembang biak berbagai ekosistem kelautan didalamnya. Berarti secara jangka panjang manusia juga yang akan rugi, karena bila ikan kecil musnah karena tak ada terumbu karang sebegai tempat bernaung, maka bisa dipastikan ikan besar juga akan lenyap sesuai skenario rantai makanan.

“Sistem menyelam yang kadang terlalu dekat ke terumbu karang, menjadi penyebab kerusakan utama terumbu karang.,” ujar Sabihis dari Lembaga Pengembangan Potensi Pariwisata dan Konservasi Kelautan (LP3K2), pada acara diskusi Penanaman dan Konservasi Terumbu Karang, oleh Wanadri yang dilakukan pada hari Jumat (31/5/2024) di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu, Jakarta.

Kecemasan tersebut disadari Sabihis, karena ia telah lama menetap di wilayah Kepulauan Seribu dan kerap menemani pengunjung yang ingin menikmati keindahan laut disana. Dalam pandangannya, banyak kegiatan wisata di laut menjadi penyebab kerusakan terumbu karang diberbagai daerah Kepulauan Seribu.

“Tidak semua dive master bisa membuat penyelam tidak merusak terumbu karang”, urai Sabihis lagi.

Perlu Konservasi

Kondisi terumbu karang di Kepulauan Seribu, yang berada di utara Jakarta itu memang terhitung miris. Pada sebuah laporan terakhir disebutkan kalau 60 persen  terumbu karang yang ada di Kepulauan Seribu sekarang terhitung rusak. Penyebab kerusakan disebutkan berasal dari ulah manusia dan perubahan kondisi alam.

Syahyudin, dari Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang hadir dalam acara diskusi tersebut juga menyebutkan berbagai masalah yang ada disana. Menurutnya setidaknya ada 110 pulau yang ada di Kepulauan Seribu saat ini. Beberapa hal kunci yang diperlukan untuk melakukan konservasi di wilayah tersebut menjadi tanggung jawab mereka.

“Selain konservasi terumbu karang, pihak taman nasional juga melakukan upaya konservasi terhadap Kima raksasa dan Penyu sisik sebagai satwa kunci pelestarian lingkungan di Kepulauan Seribu”, jelasnya.

Sementara mengenai masalah penyelam yang merusak kawasan terumbu karang, menurut Syahyudin memang kerap terjadi namun tidak menjadi penyebab utama kerusakan terumbu karang yang ada di Kepulauan Seribu. Faktor pengetahuan dan penyebaran informasi yang makin harus ditingkatkan menjadi solusi yang kemudian ditawarkan untuk masalah ini.

Tanam Karang

Salah satu solusi lain yang ditawarkan merupakan rehabilitasi terumbu karang. Rehabilitasi dilakukan dengan cara transplantasi. Begitu juga yang dilakukan Wanadri, pada hari Minggu (1/6/2024). Mereka melakukan tranplantasi dan penanaman terumbu karang pada dua lokasi berbeda. Satu berada di Taman Miniatur dekat dermaga Pulau Pramuka, yang lain dikedalaman sekitar lima meter didekat lokasi kunjungan spot wisata menyelam wreck dive di pesisir Pulau Pramuka.

Acara ini sendiri merupakan rangkaian Peringatan Ulang Tahun Wanadri ke 60 Tahun, yang jatuh pada tahun 2024 ini. Kegiatan diikuti oleh sekitar 60 penyelam yang kebanyakan merupakan anggota Wanadri.

Menyikapi masalah konservasi ini, Dirga Imam Gozali, selaku Ketua Dewan Pengurus Wanadri menyatakan kegiatan ini merupakan langkah awal bagi Wanadri memasuki area kelautan. Organisasi yang telah lahir dari tahun 1964 itu, menjadikan moment tersebut sebagai langkah baru Wanadri  memasuki ruang beraktivitas di alam bebas, setelah sebelumnya lebih banyak berkutat di area gunung hutan, tebing dan olahraga arus deras.  (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *