20 Mei 2024
pohon cemara
Kesimpulan kalau tanaman bisa beradaptasi dari pemanasan global, bisa sangat berbahaya untuk keberlangsungan kehidupan pepohonan. Sebab mereka pada kenyataannya tak bisa lari dampak pemanasan global, seperti kebakaran hutan.

Views: 0

Ratusan tahun manusia telah berdebat mengenai apakah tumbuhan memiliki perasaan, emosi dan kesadaran seperti manusia? Meski semua manusia mungkin tahun kalau tumbuhan itu tidak memiliki otak, reseptor rasa sakit, saraf, yang memungkinan tumbuhan bisa berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya.

Dalam buku The Secret Life of Plants yang terbit tahun 1973 diklaim kalau tumbuhan akan berkembang lebih baik jika diiringi musik klasik, ketimbang rock and roll. Dalam juga buku tersebut juga diklaim kalau tumbuhan memiliki reaksi terhadap emosi manusia disekitarnya. Kini banyak orang membantahnya, namun persepsi dari buku tersebut tetap menjadi bahan perbincangan menarik hingga saat ini.

Pohon Saman di Thailand yang dipercaya sebagai salah satu pohon induk bagi ekosistem tumbuhan disekitarnya.
(photo: explorerweb)

Pohon Jiwa

Namun teori interaksi tersebut, mulai era 2000-an mulai berkembang lebih luas lagi. Ahli ekologi Suzanne Simard bahkan mengeluarkan hipotesa kalau seluruh tumbuhan di bumi ini sebenarnya memiliki ‘pohon induk’.

Definisi ‘pohon induk’ itu juga yang kemudian diadaptasi dalam karya layar lebar, Avatar. Menurut Simard, akan ada pohon tertua dan terbesar dalam sebuah ekosistem. Pohon terbesar dan tertua itu akan secara aktif membantu pohon-pohon muda untuk bertahan hidup. Bantuan bisa berupa nutrisi, karbon, air, dan sinyal peringatan ke pohon-pohon muda untuk membantu pertumbuhan dan melindunginya. Simard berpendapat kalau pohon terbesar dan tertua itu akan membantu melalui mikoriza,atau semacam jamur yang berada dibawah tanah.

Pendapat itu sepertinya kemudian diperkuat dengan penemuan para ilmuwan pada tahun 2006, mengenai neurobiologi tumbuhan. Ilmu tersebut kemudian dianggap sebagai bidang studi baru, dimana disebut kalau tumbuhan memiliki respon yang terkoordinasi terhadap perubahan lingkungan disekitar mereka. Koordinasi dilakukan melalui proses sinyal listrik dan kimia yang rumit. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya neurotransmitter pada tumbuhan, yang dipercaya sebagai sebagai sel yang memiliki fungsi mirip saraf pada manusia.

Yang paling terakhir, tahun 2022 sebuah penelitian mengamati pertumbuhan kacang Prancis. Beberapa  tanaman tersebut ditanam dekat dengan tongkat yang ditancapkan ke dalam tanah. Beberapa tanaman yang lain tidak berdekatan dengan tongkat. Pada tumbuhan dekat tongkat, akar tanaman tampak mengarah ke posisi tongkat berada. Kemudian memperkuat posisi akar, dengan mengikat tongkat tersebut menggunakan akar. Dari penelitian tersebut muncul kesimpulan kalau tanaman bisa merasakan kehadiran tongkat, dan tanaman bisa merasakan kehadiran tongkat tersebut, untuk kemudian memanfaatkannya sebagai penguat posisi akar.

Pohon tak bisa lari dari kebakaran hutan. (Photo: pexels)

Hanya Mitos?

Dari berbagai penelitian diatas, maka wajar bila manusia mulai percaya kalau perasaan pada tumbuhan hanyalah sebuah mitos. Namun kritisi dari berbagai pihak ahli, kemudian membuat kesimpulan kalau asumsi tumbuhan memiliki sesuatu hal seperti manusia, kembali menjadi meragukan.

Para peneliti yakin penelitian yang tercantum di atas tidak memiliki bukti ilmiah yang cukup. Tim secara kritis meninjau buku-buku tentang konsep pohon induk dan menemukan bahwa ada beberapa kekurangan. Kajian dan informasi dalam banyak buku belum ditinjau oleh rekan sejawat dan banyak makalah ilmiah yang bertentangan dengan gagasan yang disajikan.

Buku-buku tersebut menyatakan bahwa pohon induk secara khusus dapat membantu pohon lain dari spesies yang sama. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka melakukan hal ini? Sebab seperti yang diketahui, tumbuhan dari spesies yang sama bersaing langsung satu sama lain untuk mendapatkan sumber daya.

Dalam sebuah perbicangan di program TED Talk, Simard pernah berkata: “Kita perlu menyelamatkan warisan, pohon induk dan jaringannya, serta kayu, gennya, sehingga mereka dapat mewariskan kebijaksanaannya kepada generasi pohon berikutnya sehingga mereka dapat menahan tekanan di masa depan yang akan datang.”

Memanusiakan tanaman dan meyakini bahwa tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan mewariskan kearifan, menghasilkan kesimpulan kalau tanaman dan hutan akan mampu mengatasi pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim. Kesimpulan kalau tanaman bisa beradaptasi dari pemanasan global, bisa sangat berbahaya untuk keberlangsungan kehidupan pepohonan. Sebab mereka pada kenyataannya tak bisa lari dampak pemanasan global, seperti kebakaran hutan.

Mengenai hal tersebut, para peneliti yang skeptis khawatir kalau akan lahir keputusan politik yang merugikan seputar perlindungan hutan. Hanya karena didasarkan pada pesan-pesan yang tedengar menyenangkan, padahal pesan tersebut salah. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *