nyamuk incar manusia

Satwa Liar Menghilang, Nyamuk Jadi Incar Manusia

Views: 6

Penelitian terbaru dari hutan hujan Atlantik di Brasil menunjukkan bahwa nyamuk di kawasan yang terfragmentasi akibat kerusakan habitat semakin sering mengisap darah manusia. Temuan ini memicu kekhawatiran para ilmuwan tentang meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan nyamuk, tidak hanya di Brasil tetapi juga di berbagai wilayah dunia yang mengalami tekanan lingkungan serupa.

Dalam studi berjudul Aspects of the blood meal of mosquitoes (Diptera: Culicidae) during the crepuscular period in Atlantic Forest remnants of the state of Rio de Janeiro, Brazil,” yang dipublikasikan pada 15 Januari 2026 dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution, para peneliti menemukan bahwa nyamuk betina di sisa-sisa Hutan Atlantik menunjukkan kecenderungan kuat untuk memakan darah manusia setelah habitat alami mereka menyusut.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Jeronimo Alencar, ahli biologi dari Oswaldo Cruz Institute di Rio de Janeiro. Bersama timnya, Alencar melakukan pengambilan sampel nyamuk di dua kawasan hutan yang tersisa, yakni Guapiaçu Ecological Reserve dan Sítio Recanto Preservar, yang dikelilingi oleh lanskap dengan aktivitas manusia yang tinggi.

Para peneliti menangkap lebih dari 1.700 nyamuk menggunakan perangkap cahaya berumpan karbon dioksida selama periode senja, waktu ketika banyak spesies nyamuk paling aktif. Dari jumlah tersebut, 145 nyamuk betina diketahui mengandung darah di dalam perutnya. Analisis genetik terhadap sebagian sampel menunjukkan bahwa mayoritas darah yang berhasil diidentifikasi berasal dari manusia.

“Di lingkungan seperti Hutan Atlantik, yang secara alami memiliki keragaman vertebrata sangat tinggi, dominasi darah manusia sebagai sumber makanan nyamuk menjadi sinyal yang mengkhawatirkan,” ujar Alencar. Menurutnya, kondisi ini dapat meningkatkan peluang penularan patogen dari nyamuk ke manusia.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Hutan Atlantik dulunya membentang luas di sepanjang pesisir timur Brasil. Namun deforestasi, perluasan lahan pertanian, dan urbanisasi selama berabad-abad telah menggerus tutupan hutan secara drastis. Kini, hanya sebagian kecil dari hutan asli yang tersisa, terpecah menjadi fragmen-fragmen kecil yang terisolasi.

Akibatnya, habitat alami ribuan spesies burung, amfibi, reptil, mamalia, dan ikan terus menyusut. Populasi satwa liar dipaksa bertahan di ruang yang semakin sempit, sementara manusia semakin sering beraktivitas di sekitar batas hutan, baik untuk penelitian, pariwisata, maupun pekerjaan.

Dalam kondisi alami, nyamuk dikenal sebagai pemakan oportunistik yang mengisap darah dari berbagai jenis vertebrata. Keberagaman inang ini berperan penting dalam menekan risiko penularan penyakit ke manusia. Namun ketika satwa liar berkurang, keseimbangan tersebut terganggu.

“Bagian besar darah yang kami temukan pada nyamuk berasal dari manusia,” kata Dr. Sérgio Lisboa Machado, mikrobiolog dari Federal University of Rio de Janeiro dan salah satu penulis studi. “Ini bukan semata soal preferensi, tetapi tentang perubahan ekologis yang memaksa nyamuk mencari sumber darah yang paling mudah dijangkau.”

Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa spesies nyamuk dengan perilaku makan yang fleksibel, termasuk yang dikenal mampu menularkan penyakit pada manusia. Analisis DNA mitokondria digunakan untuk memastikan sumber darah secara akurat, memperkuat temuan bahwa manusia kini menjadi inang utama di kawasan hutan yang terdegradasi.

Para ahli epidemiologi menilai perubahan pola makan nyamuk ini memiliki dampak luas. Nyamuk merupakan vektor utama berbagai penyakit berbahaya seperti demam dengue, Zika, chikungunya, dan demam kuning. Meningkatnya kontak antara nyamuk dan manusia di kawasan tepi hutan membuka peluang lebih besar bagi penyebaran virus-virus tersebut.

Lokasi dilakukannya penelitian di mengenai nyamik di Brasil.

Implikasi Global

Meski penelitian ini dilakukan di Brasil, para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena serupa sangat mungkin terjadi di wilayah lain yang mengalami fragmentasi habitat, termasuk Asia Tenggara, Afrika Tengah, dan kawasan Amazon. Di wilayah-wilayah tersebut, deforestasi dan perubahan tata guna lahan terus berlangsung dengan cepat.

“Ini bukan hanya masalah Brasil,” ujar Alencar. “Di banyak kawasan tropis, kita melihat pola kerusakan habitat yang sama. Jika kondisi ekologinya serupa, maka risikonya juga serupa—nyamuk akan semakin sering mengincar manusia.”

Para peneliti juga menyoroti hilangnya apa yang dikenal sebagai “efek perisai” alami, yakni kondisi ketika keberagaman inang membantu menghambat penyebaran patogen ke manusia. Ketika keanekaragaman hayati menurun, patogen memiliki peluang lebih besar untuk berpindah dan bertahan dalam populasi manusia.

Machado menekankan bahwa temuan ini memperkuat argumen bahwa konservasi lingkungan tidak bisa dipisahkan dari isu kesehatan masyarakat. “Menjaga ekosistem tetap utuh bukan hanya soal melindungi satwa liar,” katanya. “Ini juga tentang melindungi manusia dari risiko penyakit menular yang semakin besar.”

Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa upaya serius untuk melindungi dan memulihkan habitat alami, interaksi antara manusia dan vektor penyakit akan terus meningkat. Studi ini menambah bukti bahwa krisis keanekaragaman hayati dan ancaman kesehatan global saling terkait erat, dengan nyamuk menjadi salah satu indikator paling jelas dari perubahan tersebut. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

sejarah api purba

Saat Manusia Purba Lebih Jago Urusan Api

betta fish from kalimantan timur indonesia

Cupang Betta Channoides Berhasil Berkembangbiak di Depok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *