Views: 18
Para ilmuwan menemukan koloni laba-laba raksasa yang hidup bersama di dalam gua beracun yang penuh gas hidrogen sulfida—sebuah tempat ekstrem di mana hampir tidak ada kehidupan yang seharusnya bisa bertahan.
Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Subterranean Biology (Vol. 53, 2025), mengungkap lebih dari 110.000 ekor laba-laba dari dua spesies yang biasanya hidup menyendiri—Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans. Mereka membentuk sarang komunal raksasa seluas lebih dari 100 meter persegi di dinding gua.
“Ini pertama kalinya kedua spesies ini ditemukan hidup bersama dalam koloni sebesar ini,” kata peneliti utama István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania. “Biasanya mereka sangat teritorial, tetapi di sini, ribuan laba-laba hidup berdampingan dalam satu jaringan sarang.”
Gua Sulfur yang terletak di perbatasan Albania dan Yunani ini bukanlah ekosistem biasa. Tidak ada cahaya matahari atau tumbuhan, tetapi kehidupan di dalamnya bertahan berkat proses kemoautotrof, di mana bakteri memperoleh energi dengan mengoksidasi senyawa belerang.
Bakteri pemakan belerang ini membentuk lapisan biofilm di dinding gua. Dari lapisan itulah energi mengalir ke larva serangga seperti lalat midge (Chironomidae), yang kemudian menjadi mangsa utama para laba-laba.
“Seluruh sistem ini berfungsi tanpa bantuan sinar matahari,” jelas Urák. “Energinya berasal dari reaksi kimia di bawah tanah, namun mampu menopang kehidupan kompleks hingga ke predator puncak seperti laba-laba.”

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Perilaku Koloni Laba-Laba yang Tidak Lazim
Baik Tegenaria domestica maupun Prinerigone vagans umumnya adalah laba-laba yang hidup sendiri dan agresif terhadap sesama. Mereka biasanya membangun jaring terpisah dan mempertahankan wilayahnya dengan keras. Namun di dalam gua ini, perilaku mereka berubah total.
Para peneliti menemukan kedua spesies tersebut membangun sarang yang menyatu—sebuah struktur besar dari lapisan-lapisan benang sutra yang saling bertumpuk. Ribuan individu, jantan dan betina, hidup berdekatan, berbagi ruang dan sumber makanan tanpa perkelahian.
“Kerja sama seperti ini sangat jarang ditemukan pada laba-laba,” ujar Urák. “Kami menyebutnya kolonialitas fakultatif—bentuk hidup berkelompok sementara yang muncul ketika kondisi lingkungan memungkinkan.”
Para ilmuwan menduga bahwa stabilitas suhu, kelembapan tinggi, dan ketersediaan makanan yang konstan di dalam gua menghilangkan tekanan kompetisi yang biasanya membuat laba-laba bersifat agresif.
Analisis DNA menunjukkan bahwa laba-laba gua ini masih satu spesies dengan kerabatnya di permukaan, tetapi memiliki sedikit perbedaan genetik—hanya satu hingga tiga mutasi. Hal ini menunjukkan bahwa koloni tersebut kemungkinan terbentuk baru-baru ini, bukan karena isolasi evolusi yang panjang, melainkan akibat adaptasi cepat terhadap lingkungan ekstrem gua.
Tim juga menemukan perbedaan mencolok pada mikrobioma tubuhnya. Laba-laba penghuni gua memiliki keanekaragaman bakteri yang jauh lebih rendah dibandingkan laba-laba permukaan. Mikroba yang mendominasi di antaranya Mycoplasma dan Wolbachia, yang menunjukkan penyederhanaan komunitas bakteri akibat kondisi lingkungan yang tertutup dan stabil.

Dunia Bawah Tanah yang Rapuh
Meskipun penemuan ini membuka wawasan baru, para peneliti memperingatkan bahwa ekosistem Gua Sulfur sangat rapuh. Karena seluruh rantai makanan bergantung pada mikroba pengoksidasi belerang, perubahan kecil dalam suhu, komposisi gas, atau gangguan manusia bisa menghancurkan sistem ini sepenuhnya.
“Jika lapisan mikroba mati, serangga akan hilang—dan begitu juga laba-laba,” kata Urák.
Temuan ini memperluas pemahaman ilmuwan tentang kemampuan makhluk hidup beradaptasi di lingkungan ekstrem, serta menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu bergantung pada sinar matahari. Di tempat paling gelap dan beracun pun, alam tetap menemukan cara untuk bertahan dan berkembang.
“Penemuan ini menunjukkan betapa lenturnya kehidupan,” ujar Urák. “Bahkan di kegelapan dan udara beracun, alam tetap mampu membangun keseimbangan yang rumit.” (Sulung Prasetyo)







