20 Mei 2024
Bagi warga Baduy Dalam, yang masih kekeuh memegang amanat karuhun, menyatakan kalau kepemilikan alat elektronik seperti telepon genggam, masih dilarang sampai saat ini. Bila melanggar maka akan terkena sangsi adat.

Views: 0

“Sehubungan akan dilaksanakannya pemilihan gubernur dan wakil gubernur tanggal 22 oktober 2011, maka kami atas nama kepala desa, mengundang masyarakat yang ada di saung atau catihan supaya pulang ke kampungnya masing-masing.”

Demikian bunyi isi surat elektronik pendek, yang dikirimkan aparat desa Baduy Luar kepada para warga. Keberadaan alat elektronik seperti telepon genggam, kini memang makin meruyak di kalangan warga. Hampir tiap penduduk kampung Baduy Luar kini setidaknya memegang satu telepon genggam. Masing-masing memiliki alasan sendiri, atas kepemilikan telepon tersebut. Namun yang jelas keberadaan telepon seluler jelas berpotensi besar menggeser budaya Baduy, terutama orang di Baduy Luar.

“Tinggal tergantung pemanfaatannya, memang mungkin saja ada yang menyalahgunakan teknologi ini, namun ada juga sisi baik di dalamnya,” tutur Sarpin dari desa Balimbing, di kawasan Baduy Luar, akhir minggu ketiga Oktober 2011 lalu.

Baik Buruk

Lelaki dengan dua anak ini memaparkan, kalau telepon genggam banyak digunakan warga karena praktis dalam menyampaikan informasi. “Seperti misalnya ketika ada anggota keluarga yang meninggal atau sakit, bisa segera diberitahukan ke kerabat dekat yang lain, yang mungkin saja masih berada di saung atau catihan ladangnya,” ujar Sarpin, memberikan contoh kebaikan dari telepon genggam.

Namun buruknya, keberadaan telepon genggam jelas membuat kalangan generasi muda di Baduy Luar, menerima banyak informasi yang mungkin saja tak baik bagi mereka. Bisa juga berbagai fasilitas yang ada di telepon genggam dimanfaatkan bermacam-macam oleh pemiliknya. Untungnya sampai saat ini, keberadaan telepon genggam masih dalam taraf positif di Baduy Luar. Seperti pemanfaatan untuk penyampaian informasi kegiatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), yang disebutkan di awal artikel ini.

Hanya repotnya di Baduy Luar, keinginan untuk memiliki telepon genggam, harus dijalankan dengan konsekuensi yang kurang logis dengan kondisi perkotaan. Dimana mereka harus menempuh berkilo-kilo meter, ke Ciboleger, hanya untuk mengisi batere telepon genggam yang sekarat. Itu lantaran listrik hanya sampai ke Ciboleger, tak bisa lebih lagi karena masuk kawasan Baduy.

Biaya

“Biaya men-charge telepon antara 1000 sampai 2000 rupiah,” ungkap Sarpin lagi.

Dalam dua hari setidaknya sekali mereka mengisi ulang. Namun bagi yang hidup di ladang-ladang yang jauh di pedalaman, batere telepon genggam biasanya dihemat, karena bisa berminggu-minggu mereka berada disana, untuk menjaga ladang.

Bagi warga Baduy Dalam, yang masih kekeuh memegang amanat karuhun, menyatakan kalau kepemilikan alat elektronik seperti telepon genggam, masih dilarang sampai saat ini. Bila melanggar maka akan terkena sangsi adat.

“Biasanya akan ditegur terlebih dahulu. Namun bila sulit diatasi, maka telepon itu akan dihancurkan,” kata Kepala Pemerintahan Adat desa Cibeo, Jaro Sami.

Hingga kini sudah beberapa kali warga adat Baduy Dalam kedapatan memiliki telepon genggam. Namun biasanya masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi diperkirakan dan info dari sumber yang terpercaya, ada beberapa masyarakat Baduy Dalam yang sampai kini masih memegang telepon genggam, sebagai salah satu barang kepemilikan mereka. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *