tari maena

Jejak Perubahan dalam Gerak Tari Maena Hiliduho

Views: 3

Suara Höli! menggema dari tengah halaman pesta Falőwa di sebuah desa di Kecamatan Hiliduho, Nias. Para penari mulai bergerak serempak, kaki melangkah maju dan mundur, tangan terayun mengikuti irama keyboard yang kini menggantikan dentuman aramba dan gondra tempo dulu. Mereka berdiri membentuk empat sisi yang rapi—sebuah formasi segi empat yang tampak begitu familiar dalam pesta adat pernikahan masa kini. Namun di balik gerakan yang tampak ringan itu, tersimpan kisah panjang tentang perubahan, adaptasi, dan dinamika budaya yang terus hidup.

Perubahan tersebut terungkap dalam penelitian bertajuk Analisis Makna Tari Maena dalam Pesta Adat Falőwa (Pernikahan) pada Masyarakat di Kecamatan Hiliduho Kabupaten Nias. Penelitian yang baru dipublikasikan pada 5 Oktober 2025 tersebut mencatat bahwa Tari Maena tidak lagi dominan ditampilkan dalam formasi lingkaran penuh, atau Maena Gaolo, seperti yang diwariskan leluhur.

Lingkaran dulunya menjadi simbol kebersamaan tanpa batas, menciptakan ruang di mana tak ada yang lebih tinggi atau rendah. Dalam lingkaran itu, masyarakat Nias menemukan identitas bersama, merayakan persatuan, dan menyampaikan doa lewat syair yang mengalun bersahutan. Namun perubahan sosial perlahan membentuk estetika baru, dan formasi itu pun bergeser seiring waktu.

“Meski bentuknya berubah, esensi Maena tetap dipertahankan sebagai wujud penghormatan adat, doa, nasihat, serta simbol kebersamaan dan keharmonisan rumah tangga.,” ungkap Agus Tri Darman Laoli, peneliti utama laporan jurnal dari Institut Agama Kristen Negeri Tarutung, Tapanuli Utara.

Formasi baru Tari Maena di Nias mengalami perubahan dari masa lalu. Sebelumnya formasi berbentuk lingkaran, namun baru-baru ini terjadi perubahan menjadi bentuk segi empat. (Photo: dok. sman 1 alasa)

Formasi Baru Lebih Menguntungkan

Penelitian tersebut menemukan bahwa perkembangan teknologi dalam pesta adat—mulai dari penggunaan sound system hingga panggung besar—mendorong perubahan yang signifikan. Jika dulu ruang untuk menari Maena hanya sebatas halaman rumah atau lapangan kecil, kini pesta adat berubah menjadi perayaan besar yang menuntut tata ruang lebih teratur. Formasi segi empat memberi ruang bagi tamu untuk menyaksikan tarian dari berbagai sisi, sekaligus memudahkan dokumentasi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perayaan.

Walaupun bentuknya berubah, para peneliti mempertegas bahwa nilai sosial Maena tetap kuat. Tarian ini masih mempersatukan warga tanpa memandang usia, status sosial, atau latar belakang. Gerakan yang dilakukan serempak tetap menjadi bahasa kebersamaan. Syair yang dipimpin Sanutunő masih sarat doa, nasihat, dan penghormatan bagi kedua mempelai. Dalam perspektif simbolisme Clifford Geertz yang dipakai para peneliti, gerakan, syair, dan suasana pesta tetap hadir sebagai simbol budaya yang menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang identitas, leluhur, dan harapan akan rumah tangga yang harmonis.

Lebih Disukai Generasi Muda

Generasi muda bahkan tampak lebih mudah terlibat dalam Maena versi baru. Penelitian menunjukkan bahwa formasi segi empat dianggap lebih fleksibel dan mudah dipelajari. Pemerintah desa pun ikut mendorong pelestarian tradisi melalui pelatihan dan perlombaan yang menghidupkan kembali antusiasme terhadap Maena. Perubahan ini, menurut para peneliti, justru membuat tarian lebih meriah dan tetap relevan di tengah arus modernisasi yang masuk ke desa-desa.

Bagi masyarakat Hiliduho, perubahan formasi Maena bukan akhir dari tradisi, melainkan bukti bahwa budaya hidup dan tumbuh. Di balik empat sisi formasi yang kini menjadi simbol baru perayaan adat, masih ada lingkaran makna yang tak terputus—lingkaran nilai, kebersamaan, dan identitas yang terus dijaga. (Wage Erlangga)

Baca juga:

Artikel Dari Penulis Yang Sama

carstensz pyramid

Penyusutan Salju Merubah Puncak Gunung

gunung semeru

Gunung Semeru Erupsi Lagi, Pendakian Ditutup Sementara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *