16 Juli 2024
perahu nabi nuh di gunung ararat turki
“Ini mungkin tak 100 persen bukti peninggalan perahu Nuh, tapi kami percaya 99,9 persen itu benar kayu yang merupakan bagian perahu Nuh,” ujar Yeung Wing-cheung, peneliti penemuan arkeologis di puncak gunung Ararat.

Views: 691

Banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya dimana perahu Nabi Nuh terdampar setelah
malapetaka banjir besar yang meluluhlantakkan bumi beserta isinya. Hingga puluhan tahun silam, banyak orang menduga kalau perahu Nabi Nuh terdampar di puncak Gunung Ararat, Turki. Temuan paling akhir memperkuat dugaan tersebut.

Menurut kitab agama Kristen dan Islam, hikayat mengenai Nabi Nuh memiliki persamaan. Nabi Nuh diceritakan membuat sebuah perahu besar, yang berisi seluruh mahkluk hidup di bumi yang berpasang-pasangan. Hal ihwal pembuatan kapal itu diawali dengan peringatan Tuhan, ketika umat yang seharusnya beriman kepada-Nya memutuskan untuk mengingkari keberadaan Tuhan, sehingga Tuhan mengirimkan banjir besar untuk membasmi umat yang mengkhianati-Nya.

Masalahnya kemudian, ke mana bahtera tersebut terdampar, setelah banjir besar melanda. Lantaran banyak ayat dan keterangan dalam kitab menjadi rancu, tatkala lokasi terdamparnya kapal memunculkan nama yang tak familiar.

Bukit Judi

Seperti di ayat Alquran dalam Surah Hud: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang lalim.”

Ayat tersebut lalu menimbulkan pertanyaan ketika Bukit Judi tidak diketahui lokasinya. Bahkan hingga saat ini. Sampai akhirnya sistem pengamatan melalui teleskopik angkasa dikembangkan dan jurnal internasional Nature mengemukakan kemungkinan keberadaan kapal Nuh berada di puncak Gunung Ararat yang berada di Turki. Asumsi tersebut menjadi bualan bila tanpa bukti jelas yang mendasarinya. Nature kemudian memuat foto udara yang menggambarkan sebuah bentuk kapal yang berada tepat di puncak gunung tertinggi di Turki tersebut.

Namun, tetap saja banyak orang meragukan teori itu. Masih diperlukan banyak pembuktian secara ilmiah yang lain, yang bisa menguatkan asumsi tersebut. Sampai akhirnya sebuah grup peneliti dari China dan Turki kembali mencoba menguatkan teori itu, melalui hasil pengamatan mereka dari kayu yang ditemukan di sekitar puncak dan meneliti jejak karbon di dalamnya.

Tim tersebut merasa yakin bahwa kayu yang mereka gali di sekitar puncak Ararat merupakan kayu yang juga adalah bagian dari perahu Nuh. Setelah kayu itu diteliti, ternyata kayu itu memiliki angka jejak karbon hingga 4.800 tahun lalu. Sebuah titik waktu yang tak berbeda jauh dengan perkiraan kejadian banjir besar di zaman Nuh.

“Ini mungkin tak 100 persen bukti peninggalan perahu Nuh, tapi kami percaya 99,9 persen itu benar kayu yang merupakan bagian perahu Nuh,” ujar Yeung Wing-cheung, seorang dokumentator dari perjalanan ekspedisi penelitian tersebut, kepada media.

Tim itu terdiri dari 15 orang dari Noah’s Ark Ministries International, yang berambisi melakukan penelitian di puncak gunung berketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut itu. Selain menghitung jejak karbon pada kayu yang ditemukan, tim tersebut juga memperlihatkan fosil kapal,  berupa tambang, paku, dan pecahan kayu.

Para peneliti menjelaskan, kalau tambang dan paku diduga digunakan untuk menyatukan kayu-kayu hingga menjadi kapal. Tambang juga digunakan untuk mengikat hewan-hewan yang diselamatkan dari terjangan banjir besar. Begitu juga dengan potongan kayu yang dibuat bersekat untuk menjaga keamanan hewan-hewan.

Foto udara area gunung Ararat yang diperkirakan menjadi tempat berlabuh perahu Nabi Nuh setelah banjir besar melanda bumi. (dok. phinemo)

Citra Satelit

Pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2006, citra satelit secara detail menunjukkan benda mirip kapal yang diduga perahu Nuh itu adalah gunung yang dilapisi salju. Beberapa ahli lain, kemudian berpendapat bahwa hasil citra satelit tersebut merupakan sisa-sisa dari perahu Nuh, yang kemudian menjadi bagian dari permukiman manusia dan berbagai spesies di dunia yang selamat dari bencana banjir besar. Menurut kajian Dr Whitcomb, diperkirakan ada 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibia yang menaiki perahu Nuh tersebut. Sementara itu, berat kargo atau muatan total bahtera itu diperkirakan mungkin lebih kurang 24.300 ton.

Terlepas dari benar atau tidaknya asumsi tersebut, banyak pihak meminta pihak UNESCO untuk turut menjaga warisan budaya dunia itu, mengingat tingginya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sementara itu, polemik mengenai di mana sebenarnya Bukit Judi, tetap menjadi misteri hingga saat ini. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *