Views: 3
Dalam dunia pendakian gunung, mencapai puncak Mount Everest sering dianggap sebagai pencapaian tertinggi. Namun bagi sebagian pendaki modern, tantangan itu tidak lagi cukup. Mereka kini mencoba sesuatu yang jauh lebih ekstrem, memulai perjalanan dari permukaan laut dan mencapai puncak Everest dengan tenaga sendiri.
Pendekatan ini dikenal sebagai sea-to-summit Everest expedition, sebuah konsep ekspedisi di mana pendaki memulai perjalanan dari pinggir laut dan mencapai puncak Everest tanpa menggunakan kendaraan bermotor dalam perjalanan menuju gunung. Artinya, sebelum mulai mendaki Himalaya, para pendaki harus terlebih dahulu menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan tenaga manusia lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan ini kembali menarik perhatian para petualang. Di tengah meningkatnya komersialisasi pendakian Everest, ekspedisi sea-to-summit dianggap sebagai cara untuk mengembalikan makna petualangan dalam dunia mountaineering.
Apa Itu Ekspedisi Sea-to-Summit Everest?
Ekspedisi sea-to-summit Everest adalah gaya pendakian yang dimulai dari permukaan laut hingga mencapai puncak Everest yang berada pada ketinggian 8.849 meter. Seluruh perjalanan menuju gunung dilakukan tanpa kendaraan bermotor.
Dalam praktiknya, pendaki biasanya memulai perjalanan dari pantai di sekitar Teluk Benggala. Dari sana mereka berjalan kaki atau bersepeda melintasi India dan Nepal sebelum akhirnya mencapai wilayah Himalaya.
Setelah tiba di pegunungan, mereka kemudian mengikuti jalur klasik menuju Everest Base Camp dan melanjutkan pendakian ke puncak.
Total perjalanan dalam ekspedisi seperti ini bisa mencapai lebih dari 3.000 kilometer, jauh lebih panjang dibanding ekspedisi Everest konvensional yang biasanya dimulai langsung dari Nepal.
Bagi para pendaki yang memilih gaya ini, perjalanan menuju gunung menjadi bagian penting dari keseluruhan ekspedisi.
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Pendakian Sea-to-Summit Pertama dalam Sejarah
Konsep sea-to-summit Everest pertama kali dipopulerkan oleh pendaki Australia Tim Macartney-Snape pada tahun 1990.
Ia memulai ekspedisinya dari Teluk Benggala di India, tepatnya dari pantai Ganga Sagar. Dari sana ia berjalan kaki melintasi India dan Nepal sebelum mencapai Himalaya.
Setelah perjalanan panjang tersebut, Macartney-Snape kemudian melanjutkan pendakian menuju puncak Everest dan berhasil mencapainya.
Pendakian itu menjadi momen penting dalam sejarah mountaineering karena untuk pertama kalinya seseorang berhasil mencapai puncak Everest dengan benar-benar memulai perjalanan dari permukaan laut.
Ekspedisi tersebut menunjukkan bahwa Everest tidak hanya tentang mencapai puncak tertinggi di bumi, tetapi juga tentang menempuh seluruh ketinggian gunung dari titik paling rendah hingga titik tertinggi.
Mengapa Sea-to-Summit Everest Kembali Populer?
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep sea-to-summit Everest kembali menarik perhatian para pendaki petualang.
Salah satu alasannya adalah perubahan besar dalam cara orang mendaki Everest. Saat ini banyak pendaki yang langsung terbang ke Lukla dan bahkan menggunakan helikopter menuju Base Camp.
Kemajuan logistik membuat perjalanan menuju gunung menjadi jauh lebih mudah dibanding beberapa dekade lalu.
Namun bagi sebagian pendaki, kemudahan itu justru dianggap mengurangi semangat petualangan yang dulu menjadi bagian penting dari ekspedisi Himalaya.
Dengan memulai perjalanan dari laut, para pendaki mencoba menciptakan kembali pengalaman eksplorasi yang lebih autentik. Mereka tidak hanya mendaki gunung, tetapi juga menempuh perjalanan panjang menuju gunung tersebut.

Pendaki Modern yang Mencoba Sea-to-Summit Everest
Beberapa pendaki modern kini mencoba menghidupkan kembali konsep sea-to-summit Everest.
Salah satunya adalah pendaki asal Rumania Madalin Cristea, yang memiliki proyek ambisius bernama Seven Summits from the Sea. Dalam proyek ini ia berencana mendaki tujuh gunung tertinggi di setiap benua dengan memulai perjalanan dari permukaan laut.
Sebelumnya ia telah melakukan pendekatan serupa saat mendaki Aconcagua di Amerika Selatan dan Kilimanjaro di Afrika.
Pada tahun ini, ia memulai perjalanan menuju Everest dari kota pesisir Digha di India. Dengan membawa ransel di punggungnya, ia berjalan puluhan kilometer setiap hari menuju Nepal sebelum akhirnya mencapai wilayah Himalaya.
Perjalanan panjang tersebut tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa minggu pertama saja ia mengalami beberapa kali keracunan makanan selama perjalanan.
Namun bagi Cristea, tantangan seperti itu adalah bagian dari petualangan yang ingin ia jalani.
Menurutnya, perjalanan menuju gunung sama pentingnya dengan mencapai puncaknya.
Upaya Memecahkan Rekor Sea-to-Summit Everest
Selain ekspedisi bergaya petualangan, beberapa pendaki juga mencoba pendekatan sea-to-summit untuk memecahkan rekor.
Pendaki asal Australia Oliver Foran berusaha menyelesaikan perjalanan sea-to-summit Everest hanya dalam waktu 60 hari.
Rekor sebelumnya adalah 67 hari, yang dicatat oleh pendaki Korea Selatan Kim Chang-ho pada tahun 2013.
Untuk mengejar target tersebut, Foran merancang perjalanan yang sangat intens. Ia berencana menempuh sekitar 1.150 kilometer dengan sepeda melintasi India dan Nepal sebelum mencapai wilayah Himalaya.
Targetnya adalah bersepeda sekitar 100 kilometer setiap hari selama hampir satu bulan.
Setelah mencapai pegunungan, ia kemudian akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju wilayah Khumbu dan memulai fase pendakian Everest.
Sebagai bagian dari proses aklimatisasi, ia juga berencana mendaki beberapa gunung di sekitar Everest sebelum mencoba mencapai puncak.
Menariknya, Foran mengaku bahwa bagian perjalanan yang paling membuatnya khawatir bukanlah pendakian Everest.
Yang lebih menantang baginya adalah perjalanan panjang menuju Himalaya.
Mengembalikan Makna Petualangan di Everest
Fenomena sea-to-summit Everest menunjukkan bahwa bagi sebagian pendaki modern, Everest bukan lagi sekadar tentang berdiri di puncak tertinggi dunia.
Gunung itu menjadi simbol dari perjalanan yang jauh lebih besar—tentang ketahanan fisik, eksplorasi, dan pencarian makna petualangan.
Di era ketika teknologi memungkinkan seseorang mencapai Everest Base Camp dalam hitungan jam, ada pendaki yang justru memilih menempuh ribuan kilometer dengan berjalan kaki atau bersepeda sebelum mulai mendaki.
Bagi mereka, puncak Everest hanyalah titik akhir dari perjalanan panjang yang dimulai jauh di tepi laut.
Dan mungkin justru di situlah semangat eksplorasi yang sesungguhnya masih hidup. (Wage Erlangga)







