Views: 2
Di kedalaman yang tak dijamah cahaya, lebih dari dua kilometer di bawah permukaan Laut Hitam, terbaring diam sebuah kapal tua. Bukan kapal biasa. Ia adalah saksi bisu dari dunia yang telah lama hilang—sebuah kapal dagang Yunani Kuno yang telah tidur di pelukan laut selama lebih dari dua milenium. Ia tak hancur. Ia tetap utuh, seolah waktu menghormatinya.
Kapal itu ditemukan di lepas pantai Bulgaria oleh tim arkeolog dalam sebuah misi yang dikenal sebagai Black Sea Maritime Archaeology Project atau Black Sea MAP. Panjangnya sekitar 23 meter—ukuran yang cukup untuk menampung impian para pedagang dari tanah Athena menuju koloni-koloni Yunani di tepian Laut Hitam. Mungkin saat itu ia membawa anggur, minyak zaitun, keramik, atau harapan. Kita tak bisa memastikannya, karena muatannya masih tersegel rapi di dalam perut kayu kapal yang terlindungi oleh air laut yang anoksik—perairan tanpa oksigen, tempat waktu melambat, dan pembusukan tertunda.
Di tengah sunyi kedalaman, tiang kapal itu masih berdiri tegak. Seolah menunggu angin yang tak pernah datang, dari dunia yang telah berakhir. Bangku-bangku kayu untuk para pengayuhnya masih utuh, kosong dan tak terganggu, ditinggalkan oleh jiwa-jiwa yang mungkin tak pernah tahu bahwa mereka tengah menciptakan sejarah.

Wreck Tertua
Kapal itu tidak ditemukan karena keberuntungan semata. Teknologi canggih, kendaraan bawah laut kendali jarak jauh (ROV), dan kesabaran panjang telah membawa para ilmuwan ke sana. Karena isi kapal tak bisa dijangkau langsung, mereka mengambil sampel kecil dari kayunya untuk diuji karbon. Hasilnya menegaskan apa yang telah diduga dari desainnya—kapal itu berasal dari abad ke-4 sebelum Masehi. Saat itu Alexander Agung belum berkuasa, dan angka nol belum ditemukan manusia.
Jon Adams, seorang profesor arkeologi dari University of Southampton yang memimpin ekspedisi ini, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tahu bahwa penemuan kapal kuno bukan hal baru, tetapi sebuah kapal yang masih utuh, yang dapat dikenali bentuk dan strukturnya, yang tidak hancur digerus waktu dan laut—itu adalah keajaiban. Bahkan, bentuk kapal itu sebelumnya hanya dikenal dari lukisan di atas tembikar kuno yang kini tersebar di museum-museum Eropa.
“Penemuan ini akan mengubah pemahaman kita tentang dunia pelayaran dan pembuatan kapal di masa lalu,” ujarnya dalam rilis resmi. Ia benar. Dengan kapal ini, masa lalu bukan hanya bisa dibaca, tetapi bisa disentuh. Dirasakan. Dikhayalkan kembali.
Laut Hitam memang dikenal sebagai kuburan kapal. Sejak 2.400 tahun lalu, kapal-kapal telah menyeberanginya, membawa dagangan, manusia, dan mitos. Namun hanya sebagian kecil dari dasar laut itu yang telah dijelajahi. Masih banyak rahasia yang belum muncul ke permukaan. (Sulung Prasetyo)





