junko tabei

50 Tahun Junko Tabei Menjadi Wanita Pertama di Puncak Gunung Tertinggi Dunia

Views: 1

Pada 16 Mei 1975, seorang wanita Jepang bernama Junko Tabei mengukir sejarah dengan menjadi perempuan pertama yang mencapai puncak tertinggi dunia, Gunung Everest. Keberhasilannya ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan tonggak penting dalam perjuangan kesetaraan gender di dunia petualangan dan olahraga ekstrem yang selama ini didominasi oleh laki-laki.

Tabei, yang saat itu berusia 35 tahun, memimpin ekspedisi pendakian wanita pertama Jepang ke Everest. Tim ini terdiri dari 15 pendaki wanita, sebagian besar ibu rumah tangga dan pekerja kantoran, serta dibantu oleh pemandu dan Sherpa lokal. Pendakian ini mendapat banyak cibiran di awal, bahkan ada yang meremehkan mereka dengan komentar sinis seperti, “Seharusnya kalian di rumah saja merawat anak-anak.” Namun Tabei dan timnya membuktikan bahwa tekad dan persiapan yang matang bisa mengalahkan stereotip.

junko tabei
Junko Tabei. (Photo: Junko Tabei/www.explorersweb.com)

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Ekspedisi Berbahaya

Perjalanan menuju puncak Everest tidak mudah. Enam minggu setelah memulai pendakian dari Base Camp, tim Tabei mengalami insiden berbahaya ketika longsoran salju menghantam Camp 2 di ketinggian 6.300 meter. Tabei sempat terkubur salju dan kehilangan kesadaran selama beberapa menit. Setelah diselamatkan oleh Sherpa, ia mengalami cedera dan kelelahan, namun tetap bersikeras untuk melanjutkan ekspedisi.

Dengan tekad baja dan ketangguhan luar biasa, Tabei melanjutkan perjalanan. Pada 16 Mei 1975, ia dan Sherpa Ang Tsering mencapai puncak Everest (8.848 meter) melalui rute South Col, jalur yang pertama kali digunakan oleh Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada tahun 1953. Tabei menjadi orang ke-40 yang mencapai puncak tertinggi dunia, tetapi yang pertama sebagai seorang perempuan. Prestasinya menjadi berita besar di Jepang, namun gaungnya di dunia Barat tidak sebesar itu—sebuah refleksi dari kurangnya perhatian media terhadap pencapaian perempuan dalam bidang-bidang tertentu pada masa itu.

Junko Tabei saat berhasil mencapai puncak gunung tertinggi dunia, Everest. (photo: Junko Tabei/www.explorersweb.com)

7 Summiters dan Pelestari Lingkungan

Namun, pendakian Everest bukanlah akhir dari kiprah luar biasa Junko Tabei. Ia terus mendaki sepanjang hidupnya. Pada 1992, ia menjadi wanita pertama yang menyelesaikan Seven Summits—pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tiap benua. Ia mendaki lebih dari 70 gunung di seluruh dunia, termasuk di Antarktika, Amerika Selatan, dan Afrika.

Selain sebagai pendaki, Tabei juga dikenal sebagai pelestari lingkungan. Ia mendirikan organisasi non-profit yang fokus pada pelestarian pegunungan dan membantu membersihkan sampah-sampah dari gunung-gunung populer seperti Everest. Ia juga banyak melakukan penelitian dan kampanye soal dampak perubahan iklim di kawasan pegunungan. Tabei percaya bahwa alam bukan hanya untuk ditaklukkan, melainkan harus dihormati dan dijaga.

Kehidupan pribadinya pun tak kalah menginspirasi. Ia adalah seorang ibu dan istri, namun tidak pernah menjadikan status itu sebagai penghalang untuk menjalani passion-nya. “Saya tidak melakukan ini untuk menjadi yang pertama. Saya melakukannya karena saya mencintai gunung,” ujar Tabei dalam sebuah wawancara.

Junko Tabei meninggal pada 2016 karena kanker, namun warisan semangatnya terus hidup. Ia membuktikan bahwa keberanian, ketekunan, dan kecintaan pada alam dapat menembus batas-batas yang dipaksakan oleh masyarakat. Dalam dunia pendakian, namanya akan selalu dikenang sebagai pelopor dan inspirasi abadi bagi pendaki wanita di seluruh dunia. (Wage Erlangga)

Ditulis kembali dari artikel karangan Jenny Hall di situs www.explorersweb.com

Baca juga:

Lanjut lagi...

burung beo kakapo

Kakapo, Burung Beo Terbodoh di Dunia

Sisa Perang Dunia Membuka Luka Baru Lautan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *